PLTU Lebih Berbahaya Dibanding PLTN ?
Mendengar segala sesuatu tentang Nuklir umumnya orang cenderung apriori meskipun tidak punya pengetahuan tentang nuklir. Nuklir selalu dikaitkan dengan resiko bahaya yang sangat besar dan tak pernah lepas dari bayang-bayang bom atom Hiroshima-Nagasaki dan tragedi Chernobyl.
Begitu pula bila disebut PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir), langsung orang akan menolaknya mentah-mentah. Negara kita ini kaya dengan Batubara, mengapa tidak kita manfaatkan secara maksimal sehingga tak perlu pakai Nuklir ?. PLTU Batubara memang lebih murah namun mempunyai masalah dengan polusi yang ditimbulkannya. Masalah polusi inilah yang membatasi penggunaannya secara besar-besaran.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dihasilkan fakta yang tak banyak diketahui orang. PLTU Batubara dengan kapasitas 1.000MWe ternyata menimbulkan radiasi ke lingkungan 100 kali lebih besar dibanding PLTN dengan daya yang sama. Dari pembakaran batubara diseluruh dunia juga telah ditimbulkan limbah radioaktif Uranium dan Thorium sebesar 37.000 ton setiap tahunnya, dimana 7.300 ton diantaranya berasal dari PLTU di Amerika Serikat. Yang lebih mengkhawatirkan, desain PLTU umumnya tidak dirancang secara maksimal untuk mencegah radiasi ke lingkungan dan manajemen PLTU juga tidak dirancang untuk mengelola masalah limbah radioaktif ini.
Pemerhati lingkungan juga banyak menentang penggunaan batubara untuk listrik karena menyebabkan pemanasan global. Bahkan beberapa organisasi anti nuklir kini mulai meninjau ulang sikapnya terhadap PLTN (lihat di USA Today)
Sebagai catatan, pada saat ini terdapat 441 buah PLTN di 30 negara dengan total kapasitas lebih dari 370.000 MWe (16% produksi listrik dunia) dan saat ini sedang dibangun 30 buah PLTN lainnya di Kanada, China, Uni Eropa, India, Iran, Pakistan, Russia dan Afrika Selatan. Amerika Serikat yang paling menentang keinginan Iran mandiri di bidang nuklir memiliki PLTN terbanyak, yaitu 104 buah.
